Buku Bagus di 2016

Tak perlu berpanjang lebar, deretan buku di tulisan ini adalah buku-buku yang menurutku bagus dari 32 buku yang aku baca tahun 2016. Proses memilah dan memilih tak sulit karena beberapa buku memang terlihat istimewa di awal.

A Moveable Feast – Ernest Hemingway

Dari lima buku karangan Hemingway yang sudah kubaca, hanya dua yang aku suka. Yang pertama adalah The Old Man and the Sea. Dan yang kedua ialah buku ini. A Moveable Feast merupakan memoar Hemingway ketika tinggal di Paris pada 1920an. Buku ini berhasil memberikan gambaran suasana kota Paris dan interaksi Hemingway dengan penulis klasik lainnya di masa itu. Continue reading

Advertisements

Buku Bagus yang Saya Baca di 2015

booksspeced

Saya setuju pada pendapat bahwa informasi mengenai buku bagus harus disebarluaskan. Budaya literasi perlu ditumbuh kembangkan, terutama karena minat baca masih rendah di Indonesia. Tahun lalu saya membaca sekitar 43 buku. Sebagian besar dari buku-buku itu merupakan karya fiksi, hal yang menyebabkan hanya dua buku nonfiksi bercokol dalam daftar ini.

Tulisan ini juga sebagai pengingat diri untuk selalu mencari dan membaca buku-buku bagus. Bacaan fiksi membuat imajinasi berkembang, bacaan nonfiksi mempertajam daya nalar. Urutan ketigabelas buku ini disusun secara alfabetis. Continue reading

Review: Manusia Indonesia

cover 2

 

Buku Manusia Indonesia merupakan naskah yang diterbitkan dari ceramah Mochtar Lubis yang dilakukan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 6 April 1977. Ceramah tersebut berjudul “Kondisi dan Situasi Manusia Indonesia Masa Kini”. Dalam ceramahnya, Mochtar Lubis mengemukakan enam ciri dari manusia Indonesia.

Ciri-ciri tersebut yaitu:

1. Munafik

2. Tidak bertanggungjawab

3. Berjiwa dan berperilaku feodal

4. Percaya takhayul

5. Artistik

6. Berwatak lemah Continue reading

Saya dan Agatha Christie

books

KISAH saya dengan Agatha Christie dimulai pertengahan tahun lalu. Novel pertama yang saya baca adalah Pembunuhan atas Roger Ackroyd. Saya beruntung mendapatkan judul itu di rak sebuah toko buku. Penceritaan yang menarik ditambah pelaku yang tak disangka-sangka membuat saya jatuh hati pada novel yang ditulisnya. Kemudian saya mencari judul-judul yang sekiranya bagus dan mulai mengoleksinya.

And Then There Were None adalah judul favorit saya. Sangat sulit menemukan novel ini dan saya bersyukur mendapatkannya walau dalam kondisi bekas. Hercule Poirot adalah karakter yang saya sukai. Walaupun detektif Belgia ini agak angkuh namun otaknya jenius dan cermat memperhatikan detil yang tidak terlihat.  Continue reading

Review: And Then There Were None (Lalu Semuanya Lenyap)

cover

 

SEPULUH orang dengan latar belakang yang berbeda-beda diundang ke suatu pulau terpencil oleh seseorang yang tak dikenal. Masing-masing dari mereka menyimpan sebuah rahasia. Mereka mengira akan menjalani liburan musim panas yang indah. Namun keadaan berubah mencekam saat seseorang terbunuh. Satu demi satu. Seperti sajak anak Negro.

Pulau terpencil, rumah besar, dan tiap orang yang menyimpan rahasia adalah unsur yang membuat premis cerita ini begitu menarik. Hal yang membuat And Then There Were None berbeda dengan novel-novel Agatha Christie yang lain adalah suasana tegang dan hidup langsung terasa mulai halaman pertama. Alur yang cepat membuat setiap lembar halaman juga cepat berganti. Dan seiring cerita bergulir tingkat ketegangan terus meningkat. Continue reading

Review: Kosmos

6782803

“If a human disagrees with you, let him live. In a hundred billion galaxies, you will not find another.” – Carl Sagan

Buku yang ditulis oleh Carl Sagan ini terbit pada 1980. Buku ini adalah pelengkap dari seri televisi Cosmos yang mengudara pada tahun yang sama. Sayang, buku versi bahasa Indonesia yang terbit pada 1996 memuat gambar tidak sebanyak versi aslinya. Topik sentral Kosmos adalah astronomi. Namun buku ini mencakup berbagai cabang keilmuan lainnya mulai matematika, biologi, biokimia, sejarah hingga proses evolusi.

Buku ini mengisahkan perjalanan manusia untuk memahami alam semesta. Untuk memahami alam semesta manusia membutuhkan sesuatu yang disebut ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan atau sains selalu berkembang dari masa ke masa. Apa yang kita lakukan selalu berhubungan dengan sains.

Pada abad ke-3 SM, Erasthotenes, seorang ahli di Iskandariah, Mesir, mampu menghitung keliling Bumi, dengan kesalahan beberapa persen, dengan metode sederhana. Penemuan itu memicu banyak penjelajahan ke berbagai penjuru Bumi. Iskandariah saat itu menjadi pusat perniagaan, riset, dan kebudayaan. Banyak pemikir lahir di sana, diantaranya Archimedes, Hipparchus, Euclid, Ptolomeus, dan Herophilus. Sayang, pada abad ke-5 Masehi perpustakaan Iskandariah yang menyimpan ratusan ribu lontar berisi berbagai macam ilmu pengetahuan terbakar tak bersisa. Continue reading