Revisiting Mpu Tantular Museum

Beberapa minggu yang lalu saya mendatangi sebuah museum yang sudah lama ingin saya kunjungi, yaitu Museum Mpu Tantular. Museum ini berlokasi di Jalan Raya Buduran, Sidoarjo, tepatnya di sebelah barat jembatan layang. Sebetulnya, ketika saya masih kecil, saya pernah mengunjungi museum ini. Hingga 2004, Museum Mpu Tantular berada tepat di seberang Kebun Binatang Surabaya. Gedung Mayangkara, lokasi lama museum, kini difungsikan sebagai Perpustakaan Bank Indonesia. Setelah berpindah ke Sidoarjo, museum mendapatkan area yang lebih luas.

Walaupun museum ini dinamakan Mpu Tantular, koleksi-koleksinya tidak hanya berasal dari masa Mpu Tantular hidup saja. Terdapat pula peninggalan berharga dari masa prasejarah dan masa kolonial, serta koleksi kesenian Jawa Timur. Koleksi-koleksi tersebut dibagi ke dua tempat: Gedung I dan Gedung II (Gedung Von Faber). Continue reading

Advertisements

First Marathon: Before Race

Cak Angga di Malioboro

Cak Angga di Malioboro

Ketika mulai rutin berlari di awal tahun 2016, tepatnya mulai Februari, aku tak menyangka akan bisa mengikuti lomba marathon sampai akhir tahun. Lomba 10K pertama yang aku ikuti terjadi pada April, yaitu Pocari Sweat Run. Lomba yang tidak begitu mulus. Catatan waktuku cukup mengecewakan walaupun tidak begitu buruk. Bulan berikutnya catatan waktu 10K membaik sehingga aku mulai berpikir untuk mengikuti lomba dengan jarak yang lebih jauh, yakni half-marathon.
Akan tetapi, tidak ada lomba dengan jarak half-marathon di pertengahan tahun. Aku mulai yakin bisa mengikuti marathon setelah menyelesaikan Arjuna Welirang Ultra 30K dengan hasil yang lumayan baik. Beberapa lomba marathon akan digelar pada triwulan akhir tahun. Dengan beberapa pertimbangan, Borobudur Marathon akan menjadi lomba marathon pertamaku. Continue reading

Menengok Bung Tomo di Museum Sepuluh Nopember

?

Patung Bung Tomo

Sebagai seseorang yang sedari lahir tinggal di Surabaya saya merasa sedikit malu. Bagaimana tidak, saya belum pernah sekali pun mengunjungi Museum Sepuluh Nopember, sebuah museum yang menegaskan julukan Kota Pahlawan bagi Surabaya. Sesuai namanya, museum ini menyimpan peninggalan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Syukurlah, beberapa bulan yang lalu saya sempat mengunjungi museum yang diresmikan pada tahun 2000 ini.

Museum Sepuluh Nopember dibangun di area Tugu Pahlawan. Jika dilihat dari luar area Tugu Pahlawan, keberadaan Museum Sepuluh Nopember tidak akan terlihat dengan jelas. Bangunan museum sengaja dibangun 7 meter di bawah permukaan tanah sekitarnya. Hal ini dimaksudkan supaya keberadaan gedung museum tidak mengurangi kemegahan Tugu Pahlawan. Continue reading

Gerhana Matahari Total 2016

Jangkauan GMTTahun 2016 menjadi tahun yang cukup bersejarah bagi masyarakat Indonesia. Pada 9 Maret 2016, Indonesia menjadi satu-satunya wilayah daratan yang dilintasi Gerhana Matahari Total (GMT). Warga di 12 provinsi beramai-ramai menikmati momen langka ketika matahari tertutup bulan secara sempurna.
GMT menjadi hal yang sangat menarik karena peristiwa ini terjadi rata-rata 375 tahun sekali pada suatu daerah yang sama. Wilayah Indonesia yang berada di luar jangkauan GMT tetap bisa menyaksikan fenomena ini walaupun matahari tidak tertutup secara total (gerhana matahari sebagian). Sebelum tahun ini terakhir kali wilayah Indonesia dilintasi GMT pada 1995. Continue reading

Batu Secret Zoo

Batu Secret Zoo berlokasi di kota Batu, Jawa Timur, berdekatan dengan Batu Night Spectacular. Batu Secret Zoo sendiri termasuk dalam kawasan Jatim Park 2. Selain Batu Secret Zoo, Jatim Park 2 meliputi Taman Satwa dan Eco Green Park.

Dua bulan yang lalu, saya bersama kawan saya, Aynur, mengunjungi tempat wisata ini. Karena kami datang pada weekday, harga tiketnya lebih murah dibanding saat weekend. Tiket masuk Batu Secret Zoo dan Taman Satwa seharga 75 ribu. Apabila ingin ke Eco Green Park sekaligus, harga tiketnya 85 ribu. Continue reading

House of Sampoerna: Potret Perjuangan Liem Seeng Tee

1

House of Sampoerna berdiri di Jalan Taman Sampoerna 6 Surabaya, tak jauh dari Jembatan Merah Plaza. House of Sampoerna merupakan museum sejarah perusahaan rokok HM Sampoerna dari awal berdiri. Bangunan ini dibangun pada masa penjajahan Belanda tahun 1862, awalnya digunakan sebagai panti asuhan. Tahun 1932, bangunan ini dibeli Liem Seeng Tee, pendiri Sampoerna, untuk dijadikan pabrik rokok.

Liem Seeng Tee adalah imigran dari Cina yang datang ke Indonesia bersama ayah dan kakak perempuannya pada tahun 1898, tak lama setelah ibunya meninggal, untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Saat itu ia baru berumur lima tahun. Di tengah perjalanan, sang ayah harus merelakan kakak perempuannya diadopsi oleh sebuah keluarga Cina di Singapura karena kondisi ekonomi yang buruk. Tak lama setelah tinggal di Indonesia, sang ayah meninggal karena sakit. Seeng Tee muda pun diadopsi oleh sebuah keluarga di Bojonegoro. Pada usia 11 tahun, ia meninggalkan keluarga angkatnya dan mulai menjajakan barang dagangan di kereta api. Continue reading