First Marathon: Before Race

Cak Angga di Malioboro

Cak Angga di Malioboro

Ketika mulai rutin berlari di awal tahun 2016, tepatnya mulai Februari, aku tak menyangka akan bisa mengikuti lomba marathon sampai akhir tahun. Lomba 10K pertama yang aku ikuti terjadi pada April, yaitu Pocari Sweat Run. Lomba yang tidak begitu mulus. Catatan waktuku cukup mengecewakan walaupun tidak begitu buruk. Bulan berikutnya catatan waktu 10K membaik sehingga aku mulai berpikir untuk mengikuti lomba dengan jarak yang lebih jauh, yakni half-marathon.
Akan tetapi, tidak ada lomba dengan jarak half-marathon di pertengahan tahun. Aku mulai yakin bisa mengikuti marathon setelah menyelesaikan Arjuna Welirang Ultra 30K dengan hasil yang lumayan baik. Beberapa lomba marathon akan digelar pada triwulan akhir tahun. Dengan beberapa pertimbangan, Borobudur Marathon akan menjadi lomba marathon pertamaku. Continue reading

Advertisements

My First Backpacking Trip: Jogja Memang Istimewa Part 1

Akhirnya posting juga, setelah satu bulan lebih tidak memperbarui isi blog ini. Berawal dari keinginan untuk backpackeran, akhirnya rencana itu terlaksana pada liburan semester kemarin. Partner in crime saya adalah Lucky. Tujuan kami adalah Jogja. Tentunya kami berencana ke Jogja bukan untuk mendukung penetapan Sri Sultan sebagai Gubernur DIY walaupun saya setuju dengan aspirasi rakyat Jogja tersebut :smile:. Sejak kecil saya setiap Lebaran mengunjungi rumah mbah saya di Imogiri, Jogja. Saya merasa mempunyai chemistry dengan kota ini. Sudah sekitar 4,5 tahun tidak mengunjungi kota ini.

Jauh-jauh hari saya sudah mencari info dan membuat itinerary. Karena perjalanan kami berlabel backpacking tentunya kereta api ekonomi adalah pilihan yang bijak. Tanggal 30 Desember 2010 saya dan Lucky berencana naik KA Kahuripan yang dijadwalkan berangkat pukul 9 malam, tiketnya seharga 24 rb untuk rute Bandung sampai Jogja. Satu jam sebelum keberangkatan para calon penumpang sudah menyemut di stasiun Kiaracondong. Bisa dapet tempat duduk gak ya, pikir saya waktu itu. Kereta yang ditunggu pun datang, namun boro2 dapet tempat duduk masuk pun sulit. But, the show must go on.

Setelah berdesak-desakan akhirnya saya pun dapat masuk juga. Saya berdiri hanya berjarak satu langkah dari bibir pintu masuk. Persis seperti suasana kereta ekonomi saat libur Lebaran, bahkan mungkin lebih parah. Begitulah, trasportasi sejuta umat ini memang pilihan bagi masyarakat Indonesia yang umumnya kalangan menengah ke bawah. Kereta pun perlahan bergerak dan saat itu saya sadar perjalanan sembilan jam ini akan sangat panjang dan akan terekam dalam memori saya.

DAY 1

Stasiun Lempuyangan

Continue reading