First Marathon: Race Day

Suasana di penginapan sebelum lomba

Suasana di penginapan sebelum lomba

Salah satu faktor yang mempengaruhi performa atau hasil dalam suatu perlombaan adalah istirahat yang cukup dan berkualitas. Untungnya malam itu aku dapat tidur dengan pulas. Walaupun beritirahat hanya empat jam, tidur sekitar pukul sebelas lalu bangun pukul tiga, namun bisa dibilang cukup berkualitas. Barangkali karena tubuh cukup lelah mengunjungi beberapa tempat pagi sebelumnya. Menu sarapan sebelum lomba adalah roti, pisang, dan energen. Minumannya ada pocari serta air gula merah yang telah kusiapkan sebelumnya. Sebelumnya tak pernah aku sarapan sebelum lomba dengan komposisi selengkap itu.

Dari Ikasmanca Runners hanya dua yang mengikuti kategori marathon, yaitu aku dan Cak Gusti. Kami berdua meninggalkan penginapan pukul 4.40. Menurut jadwal, kategori marathon memulai lomba pukul 5. Dengan jarak venue yang dekat, kami seharusnya tidak akan terlambat. Tiba di lokasi start, aku langsung melakukan peregangan. Pukul 5, aku dan Cak Gusti sudah bersama ratusan pelari marathon lainnya di belakang garis start. Menunggu sekian lama ternyata waktu start dimundurkan 30 menit.

Begitu pistol meletus tanda start dimulai, pelari-pelari elite langsung tancap gas, diikuti ratusan pelari di belakangnya. Pada awal lomba terdapat kejadian yang mengjengkelkan sekaligus konyol. Hampir seluruh pelari marathon tersasar, termasuk pelari elite. Rute seharusnya berbelok ke kiri pada pertigaan pertama. Namun karena ketiadaan marshal, para pelari berlari lurus memutari Candi Borobudur sehingga kembali ke lokasi start. Walhasil, pelari harus menerobos kerumunan pelari kategori half-marathon dan 10K. Jarak kategori marathon pun bertambah sekitar 1,5 km. Ketidakhadiran marshal di belokan pertama ini merupakan kesalahan fatal panitia.

Banyak pelajaran yang aku dapat dari marathon pertama ini. Yang pertama adalah jangan telan mentah-mentah hasil prakiraan cuaca. Selalu antisipasi kemungkinan terburuk. Tanpa memakai topi, aku berlari puluhan kilometer di bawah sinar mentari yang terik. Tak mengira cuaca bakal sepanas ini. Berbeda jauh dari analisis ahli klimatologi. Sinar matahari yang langsung menghantam kepala menyebabkan cepat haus dan lelah. Hal ini membuatku sering berhenti di water station (WS) atau pos hidrasi. Kalau tidak alpa, mulai km 7.5 aku berhenti di tiap WS. Padahal rencana awal hanya berhenti di lima WS saja.

Kaki kanan yang belum pulih dari cedera membuat keadaan bertambah buruk. Kaki kanan terasa agak berat untuk dipakai lari jauh. Di WS km 17.5 aku sempat meminta semprotan etil untuk mengurangi nyeri di lutut kanan. Terlalu sering minum membawa efek negatif. Tubuh menjadi makin berat sehingga performa lari menjadi kacau. Imbas lainnya ingin buang air kecil. Dari km 17 aku mencari toilet umum maupun minimarket di kiri kanan jalan. Namun hingga km 20 tak menemukan satu pun. Untungnya, di sekitar WS km 20 ada warga yang berbaik hati meminjamkan kamar mandi di ruko miliknya. Sebelumnya, terlihat beberapa pelari buang air di semak-semak pinggir jalan. Sangat disayangkan panitia tidak menyediakan toilet, khususnya pada rute marathon.

Salah satu hal yang menarik adalah antusiasme warga sekitar cukup tinggi menyambut event ini. Orang dewasa hingga anak kecil seringkali memberikan semangat saat para pelari melintasi kawasan pemukiman mereka. Rute yang melewati kawasan pedesaan juga memberikan suasana yang cukup menyegarkan. Aspek lain yang perlu diapresiasi adalah WS. Untuk kategori marathon, terdapat WS setiap 2.5 km mulai km 5. Tiap 5 km juga disediakan spons basah. Spons basah ini benar-benar menyegarkan dan membantu mendinginkan kepala. Bila mengalami cedera di tengah lomba pun tak perlu resah, tim medis bersiaga di banyak titik.

Banyak yang mengatakan bagian terberat dari lomba marathon adalah pada kilometer 30-35. Aku sangat sepakat. Ketika tubuh sudah sangat letih dan otot-otot kaki telah bekerja melewati batas, kekuatan mental menjadi kunci untuk menyelesaikan kilometer-kilometer terakhir. Yang jelas, sejak km 30 kakiku sudah sulit untuk dipakai lari. Sempat berlari stabil di km 32-34, kemudian menyerah kembali memasuki km 35. Kombinasi gejala heat stroke dan kaki yang sangat letih membuat hanya bisa berjalan dan paling banter jogging.

Memasuki kompleks Candi Borobudur aku berlari kembali. Jalan menuju garis finish cukup padat oleh wisatawan dan pelari yang sudah finish. Aku melintasi garis finish dengan waktu 5 jam 43 menit. Sangat jauh dari target awal. Untuk rute marathon sendiri banyak dijumpai jalanan menanjak. Elevation gain total mencapai 300 meter.

Setelah finish agak kebingungan karena tidak ada petugas yang menyerahkan medali. Ternyata medali tidak dibagikan di garis finish. Sistem seperti ini bisa dimanfaatkan peserta yang tidak berlari tetapi bisa mendapatkan medali. Dan sedikit kecewa sebab tidak ada perbedaan medali untuk semua kategori. Selain itu, terdengar kabar pembagian medali kategori 10K juga sempat ricuh. Seharusnya hal-hal seperti ini bisa diantisipasi panitia mengingat event ini sudah beberapa kali digelar.

Untuk clearing jalan, menurutku dilakukan dengan cukup baik. Namun kewaspadaan perlu ditingkatkan saat berlari di jalan antarkota yang dilalui kendaraan besar. Setiap persimpangan jalan dijaga satu marshal. Petugas kepolisian juga tampak di banyak titik memberikan rasa aman bagi pelari. Semoga pada penyelenggaraan selanjutnya panitia bekerjasama dengan race organizer yang lebih berpengalaman. Jangan sampai event internasional ini mengulang kesalahan-kesalahan sebelumnya. Tidak masalah biaya lomba naik asal kualitas lomba menjadi jauh lebih baik.

Race rating: 7.5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s