First Marathon: Before Race

Cak Angga di Malioboro

Cak Angga di Malioboro

Ketika mulai rutin berlari di awal tahun 2016, tepatnya mulai Februari, aku tak menyangka akan bisa mengikuti lomba marathon sampai akhir tahun. Lomba 10K pertama yang aku ikuti terjadi pada April, yaitu Pocari Sweat Run. Lomba yang tidak begitu mulus. Catatan waktuku cukup mengecewakan walaupun tidak begitu buruk. Bulan berikutnya catatan waktu 10K membaik sehingga aku mulai berpikir untuk mengikuti lomba dengan jarak yang lebih jauh, yakni half-marathon.
Akan tetapi, tidak ada lomba dengan jarak half-marathon di pertengahan tahun. Aku mulai yakin bisa mengikuti marathon setelah menyelesaikan Arjuna Welirang Ultra 30K dengan hasil yang lumayan baik. Beberapa lomba marathon akan digelar pada triwulan akhir tahun. Dengan beberapa pertimbangan, Borobudur Marathon akan menjadi lomba marathon pertamaku.
Persiapan menuju Borobudur tidak berlangsung mulus. Seminggu sebelum race day, kaki kanan terasa nyeri di sekitar lutut. Cedera ini berasal dari keikutsertaan pada Gerak Jalan Mojokerto – Surabaya sepanjang 54 kilometer. Aku agak meremehkan gerak jalan ini. Sebelum gerak jalan, aku latihan lari sejauh 22 km. Selain itu, saat gerak jalan aku memakai dua celana yang membuat langkah kaki tidak nyaman. Alhasil, tak sampai pertengahan jarak, kedua lutut terasa sangat nyeri. Menjelang keberangkatan ke Yogyakarta, aku berharap cedera ini tidak banyak mengganggu nantinya.

Kembali ke Yogyakarta
Sabtu pagi, aku sudah tiba di Yogyakarta. Bersama tiga kawan, Cak Angga, Irfan, dan Afan, kami turun di Terminal Giwangan. Kami memutuskan pergi ke Malioboro untuk sarapan dan berjumpa dengan sopir yang akan mengantar kami ke Magelang. Trans Jogja merupakan moda transportasi yang cukup nyaman dan murah untuk mengelilingi Yogyakarta. Rupanya, di Malioboro sedang dilakukan perluasan pedestrian pada sepanjang jalan. Akhirnya, kami berempat sarapan gudeg di depan Pasar Beringharjo.
Ketika menyantap gudeg yang nikmat itu, sang sopir menelepon dan mengatakan sudah sampai di area samping pasar. Sesudah urusan perut selesai, kami menghampiri si sopir yang bernama Mas Adit. Setelah ngobrol singkat, Mas Adit menyarankan untuk mengunjungi beberapa objek wisata di sekitar Keraton. Tempat pertama yang didatangi adalah Keraton Yogyakarta. Kami tak menghabiskan waktu lama di sini. Kemudian, Mas Adit membawa mobil ke Alun-alun Selatan. Alun-alun ini mempunyai dua pohon beringin besar di sentralnya. Mungkin pembaca sudah mengetahui permainan menggunakan pohon beringin ini. Aku dan Irfan pun sempat mencoba permainan itu 😀
Cak Angga lalu memberi saran untuk mendatangi Museum Kareta Karaton. Kami pun meluncur ke museum yang terletak dekat Keraton ini. Museum ini menyimpan kereta-kereta yang dipakai raja-raja Yogyakarta sejak masa penjajahan Belanda. Karcis masuk tempat ini cukup murah. Setiap individu hanya perlu membayar lima ribu ditambah seribu untuk izin foto. Disarankan menggunakan pemandu untuk memperoleh informasi setiap kereta.
Museum mempunyai koleksi lebih dari dua puluh kereta keraton. Salah satu yang menjadi koleksi spesial adalah Kareta Nyai Jimad. Kalau tidak alpa, kereta ini merupakan koleksi tertua museum. Dibuat di Belanda, kereta ini digunakan sebagai transportasi Sultan HB I-III. Koleksi lain yang menarik perhatian adalah Kareta Roto Praloyo. Kereta ini merupakan kereta jenazah serta telah digunakan untuk mengangkut jenazah Sultan HB IX menuju Imogiri.

Museum Kareta Karaton

Museum Kareta Karaton

Suasana dalam museum

Suasana dalam museum

Kareta Nyai Jimad

Kareta Nyai Jimad

Beranjak dari museum, kami memutuskan berisitirahat di tujuan berikutnya. Cukup berjalan kaki sebentar ke arah utara. Sampai di Alun-alun Utara kemudian ganti haluan ke barat. Aku pun sampai di tujuan, yaitu Masjid Gedhe Kauman. Masjid ini dibangun oleh Sultan HB I pada 1773 M. Arah kiblat masjid sekarang yang agak miring ke utara merupakan hasil koreksi KH Ahmad Dahlan.
Rencananya kami bertemu rombongan Ikasmanca Runners yang lain terlebih dahulu, sebelum bersama-sama menuju Magelang. Sehabis menunaikan sholat dhuhur, aku, Irfan, dan Afan berisitrahat di serambi masjid. Sungguh sangat nyaman duduk di area depan masjid ini. Lantai marmer yang dingin diiringi hembusan angin yang sejuk dapat membuat siapa saja terlelap. Pukul setengah dua, rombongan yang ditunggu datang. Sembari menanti kedatangan Cak Gigih, kami makan siang dahulu di House of Raminten. Suasana rumah makan ini agak berbeda dibanding rumah makan kebanyakan. Nuansa kleniknya cukup kental, tapi masih nyaman menikmati makanan di tempat ini.

Masjid Gedhe Kauman

Masjid Gedhe Kauman

Ruang dalam masjid

Ruang dalam masjid

Serambi masjid

Serambi masjid

Rombongan kemudian dibagi dua. Mobil pertama menuju Artos untuk mengambil racepack. Mobil kedua bertugas menjemput Cak Gigih dan Cak Gusti. Begitu mendapatkan keduanya, Mas Adit segera mengarahkan mobil ke penginapan. Penginapan yang akan kami tempati malam itu bernama Omah Eling Guest House. Letaknya di samping kompleks Candi Borobudur. Malamnya kami carbo loading di sekitar penginapan. Kembali ke penginapan, ternyata mobil pertama sudah tiba. Malam semakin larut, sebagian membubarkan diri menuju kamar masing-masing.

Makan siang di House of Raminten

Makan siang di House of Raminten

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s