Gerhana Matahari Total 2016

Jangkauan GMTTahun 2016 menjadi tahun yang cukup bersejarah bagi masyarakat Indonesia. Pada 9 Maret 2016, Indonesia menjadi satu-satunya wilayah daratan yang dilintasi Gerhana Matahari Total (GMT). Warga di 12 provinsi beramai-ramai menikmati momen langka ketika matahari tertutup bulan secara sempurna.
GMT menjadi hal yang sangat menarik karena peristiwa ini terjadi rata-rata 375 tahun sekali pada suatu daerah yang sama. Wilayah Indonesia yang berada di luar jangkauan GMT tetap bisa menyaksikan fenomena ini walaupun matahari tidak tertutup secara total (gerhana matahari sebagian). Sebelum tahun ini terakhir kali wilayah Indonesia dilintasi GMT pada 1995.

Solar_eclipse_animate_(2016-Mar-09)
Saya dan kawan saya, Aynur, menyaksikan GMT di Palembang. Pengamatan GMT di kota ini dipusatkan di Jembatan Ampera. Pemerintah setempat menutup Jembatan Ampera mulai tengah malam. Karena penginapan kami berada cukup jauh dari Jembatan Ampera, kami berdua memutuskan untuk tidur di Masjid Agung Palembang, yang berlokasi dekat jembatan, pada malam sebelumnya. Cukup banyak orang yang bermalam di masjid, barangkali mereka juga ingin menyaksikan gerhana esok pagi.
Setelah menunaikan sholat subuh saya bergegas keluar masjid. Tampak orang-orang berbondong-bondong berjalan ke arah tengah Jembatan Ampera. Di atas jembatan sendiri sudah berdiri ribuan orang. Saya dan Aynur akhirnya berdiri di trotoar, agak terpisah.
Waktu mendekati pukul 6.20 WIB, waktu ketika matahari mulai tertutup satelit Bumi. Jembatan sudah penuh dengan ribuan orang yang antusias menyaksikan fenomena alam ini. Sayangnya pagi itu langit timur tampak berawan. Gumpalan awan raksasa menutupi sang mentari. Matahari benar-benar sulit terlihat. Namun sesekali matahari mengintip dari celah awan.

Langit di Timur

Matahari tidak terlihat di langit timur

Suasana di atas Jembatan Ampera

Suasana di atas Jembatan Ampera

Suasana di sekitar Ampera

Suasana di sekitar Ampera

Matahari sesekali nampak

Matahari sesekali nampak

Sekitar dua puluh menit menjelang pukul 7.21 WIB sinar matahari terlihat mulai meredup, seperti kondisi saat mendung. Semakin lama langit terlihat semakin gelap. Walaupun matahari hampir tidak terlihat, momen ini adalah momen yang mendebarkan sekaligus menggairahkan.

Langit mulai menggelap, matahari masih tetap tak terlihat

Langit mulai menggelap, matahari masih tetap tak terlihat

Menjelang fase total

Menjelang fase total

Dan perlahan langit terlihat sangat gelap, seperti saat malam tiba. Walaupun saya dan lainnya tidak dapat melihat langsung, kami semua yakin puncak gerhana matahari telah dimulai. Suasana menjadi riuh. Berbagai kamera diangkat sang empunya untuk menangkap momen yang barangkali hanya sekali dirasakan seumur hidup ini. Menurut ahli astronomi, fase puncak di Palembang ini berdurasi 1 menit 52 detik.

Fase total

Fase total

Tertutup awan

Tertutup awan

Setelah fase total, langit yang gelap perlahan-lahan berubah menjadi lebih terang. Meskipun proses gerhana masih berlangsung, sinar matahari yang hadir kembali membuat suasana menjadi cerah. Bersamaan dengan itu, orang-orang berangsur-angsur meninggalkan lokasi. Kehidupan bergairah kembali seperti suatu pagi yang biasa.
Selanjutnya, sebagian wilayah Indonesia akan merasakan Gerhana Matahari Cincin pada 2019 dan Gerhana Matahari Hybrid (Total sekaligus Cincin) pada 2023. Melalui gerhana matahari kebesaran Tuhan kembali terlihat. Berputarnya benda-benda langit secara teratur menjadi bukti keagunganNya. Manusia hanyalah remah-remah yang berserakan dalam luasnya semesta ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s