Review: And Then There Were None (Lalu Semuanya Lenyap)

cover

 

SEPULUH orang dengan latar belakang yang berbeda-beda diundang ke suatu pulau terpencil oleh seseorang yang tak dikenal. Masing-masing dari mereka menyimpan sebuah rahasia. Mereka mengira akan menjalani liburan musim panas yang indah. Namun keadaan berubah mencekam saat seseorang terbunuh. Satu demi satu. Seperti sajak anak Negro.

Pulau terpencil, rumah besar, dan tiap orang yang menyimpan rahasia adalah unsur yang membuat premis cerita ini begitu menarik. Hal yang membuat And Then There Were None berbeda dengan novel-novel Agatha Christie yang lain adalah suasana tegang dan hidup langsung terasa mulai halaman pertama. Alur yang cepat membuat setiap lembar halaman juga cepat berganti. Dan seiring cerita bergulir tingkat ketegangan terus meningkat.

Tak ada Hercule Poirot, Miss Marple, ataupun Tommy dan Tuppence di sini. Bisa dibilang ini adalah cerita kriminal tanpa detektif. Membaca buku ini sedikit mengingatkan pada film Saw, tentu bukan pada sisi kesadisannya. Bisa jadi pembuat film Saw terinspirasi dari novel ini.

Novel ini pertama kali terbit pada 1939. Buku ini disebut sebagai novel Agatha paling populer dan telah dipilih sebagai the World’s Favourite Christie pada perayaan ulangtahun ke-125 sang maestro. Mencekam dari halaman pertama sampai halaman terakhir. Tak diragukan lagi, And Then There Were None merupakan karya terbaik dari sang Ratu Kriminal.

One thought on “Review: And Then There Were None (Lalu Semuanya Lenyap)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s