Perjalanan Menuju Puncak Pawitra

SAM_1958

 

Perjalanan ini dilakukan beberapa hari setelah Lebaran kemarin, tepatnya Sabtu 2 Agustus 2014. Gunung Penanggungan menjadi tujuan karena lokasinya dekat dari Surabaya dan tidak terlalu tinggi (1653 mdpl) sehingga tidak memerlukan persiapan yang panjang. Gunung Penanggungan sendiri masuk wilayah Mojokerto.

Pagi itu saya dan teman saya Ari sudah berada di bus kota menuju Terminal Bungurasih. Rencanaya kami pergi ke basecamp di daerah Trawas menggunakan angkutan umum. Sebuah rencana yang akan kami sesali nantinya. Sesampainya di Bungurasih, kami langsung naik bus Surabaya – Malang. Kami akan turun di Terminal Pandaan sebelum berganti angkutan. Tak disangka kondektur bus menarik uang karcis sebesar 30 ribu per orang walau kami hanya akan naik setengah perjalanan. Termasuk mahal juga sih karena jarak Surabaya – Pandaan hanya satu jam perjalanan. Mungkin waktu itu masih musim Lebaran dan kami tidak sadar yang bus yang kami naiki adalah bus patas.

Di Terminal Pandaan kami lanjut naik mobil Colt menuju Trawas. Selain Trawas, ada juga trayek ke Tretes. Bagi yang ingin naik Gunung Arjuno atau Welirang bisa naik trayek ini. Perjalanan menuju Trawas ditempuh selama satu jam. Di kiri kanan jalan banyak berdiri villa dan tempat penginapan. Mobil Colt tidak mengantar sampai pos pendakian. Selanjutnya pos pendakian ditempuh dengan berjalan selama 15 menit. Oh ya, biaya naik Colt tadi 10 ribu.

Pos pendakian berada di desa Tamiajeng dan dekat sekali dengan Kampus III Ubaya. Karena itu, jalur Trawas ini sering disebut juga jalur Tamiajeng. Selain jalur Trawas, ada dua jalur lain untuk mencapai puncak Penanggungan yaitu jalur Jolotundo dan jalur Ngoro. Jika melalui jalur Jolotundo akan ditemui beberapa candi bersejarah peninggalan zaman dahulu.

Nama lain Gunung Penanggungan adalah Pawitra. Istilah Pawitra ini berasal dari kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca. Gunung ini sendiri tidak mempunyai sumber air. Jadi jika ingin mendaki dan bermalam perlu membawa bekal air yang cukup. Oleh karena itu, saya membawa satu jirigen di samping beberapa botol air ukuran besar. Untuk amannya tiap orang minimal membawa 4 liter air.

Jika kamu berdomisili tidak jauh dari Mojokerto seperti Surabaya atau Malang baiknya menggunakan transportasi motor atau mobil. Lebih menghemat waktu, tenaga dan biaya. Di sekitar pos pendakian terdapat warung makanan yang menyediakan tempat penitipan kendaraan.

Biaya pendaftaran pendakian hanya 6 ribu. Petugas pos mengatakan biasanya pendakian ramai ketika weekend tiba, bisa mencapai 150 orang. O ya, di sekitar pos terdapat tiga warung makanan sehingga tidak perlu risau kekurangan logistik. Saya dan Ari pun sempat makan siang dulu di salah satu warung.

SAM_1932

Pos pendakian

 

Kami berdua memulai mendaki jam setengah 2 siang. Jalurnya cukup jelas, tinggal mengikuti jalan setapak. Di awal jalan terdapat perempatan, jalan lurus saja. Jalur awal cukup landai. Setelah 20 menit berjalan, jalur menjadi cukup terjal. Untung siang itu sinar matahari tidak terik, malah lumayan sejuk.

SAM_1938

 

Ari

Ari

 

Semakin naik, jalur menjadi semakin terjal dan juga licin. Harus berhati-hati jika tidak ingin terpeleset. Tak jarang perlu berpegangan pada akar pohon dan batu untuk terus berjalan naik. Di tengah jalan beberapa kali kami menjumpai beberapa grup pendaki yang turun. Ari sendiri cukup kerepotan membawa beberapa botol air. Akhirnya beberapa botol saya bawa untuk mempercepat perjalanan.

Tanjakan

Tanjakan

Pemandangan di tengah perjalanan

Pemandangan di tengah perjalanan

 

Setelah menempuh tiga jam perjalanan akhirnya kami tiba di camping ground. Entah berapa ketinggian camping ground yang cukup luas ini. Yang jelas dari sini puncak Penanggungan sudah terlihat jelas. Salah seorang pendaki mengatakan dari sini butuh waktu sejam untuk sampai di puncak.

Lereng puncak

Lereng puncak

SAM_1953

Menjelang matahari terbenam

 

Setelah tenda terpasang, waktunya untuk masak! Tentunya beras yang pertama kali dimasak karena butuh waktu lama. Ketika berada gunung, wajib makan nasi saat sarapan dan makan malam. Nasi adalah sumber tenaga utama. Menu malam itu adalah mi goreng dan sarden. Awalnya kami masak di depan tenda, namun angin terus berhembus kencang sehingga nyala api kompor mengecil. Akhirnya proses memasak dipindah ke dalam tenda.

Masak dalam tenda

Masak dalam tenda

Makan malam

Makan malam

 

Dari atas sini jika melihat ke arah selatan akan terlihat ribuan kerlip cahaya lampu kota. Seiring malam yang semakin larut, semakin banyak pendaki berdatangan. Suasana malam itu cukup ramai. Hampir seluruh tempat penuh ditempati tenda. Menurutku, malam itu tidak terlalu dingin, bisa jadi karena ketinggian gunung yang tidak tinggi.

Scenery pagi

Scenery pagi

 

Minggu pagi. Kami telat bangun! Segera kami sholat subuh dulu. Kami mulai naik jam setengah tujuh. Jalur menuju puncak sangat terjal dengan kemiringan sekitar 45o. Banyak pendaki mengiringi langkah kami. Dari atas banyak pula pendaki yang berjalan turun. Jalur penuh dengan batu-batu besar serta licin. Harus pandai-pandai melangkah. Ari agak tertinggal di belakang.

Alhamdulillah setelah melewati tanjakan hampir satu jam saya sampai di puncak. Di atas suasananya cukup ramai. Puluhan pendaki menikmati suasana dengan bercengkrama dan berfoto. Beberapa tenda berdiri di sana. Ari tiba lima belas menit kemudian. Puncak gunung Penanggungan sendiri cukup luas. Dari arah tenggara tampak gagah Gunung Welirang dan di belakangnya, Gunung Arjuno.

SAM_2013

 

SAM_2026

SAM_2014

Gunung Welirang dan Gunung Arjuno tertutup awan

Gunung Welirang dan Gunung Arjuno tertutup awan

SAM_2019

 

Setelah puas menikmati susana di puncak, kami memutuskan turun. Melangkah turun memang lebih cepat daripada naik tetapi bukan berarti lebih mudah. Harus memilih tempat pijakan kaki yang tepat. Nah, di tengah perjalanan turun terjadi Peristiwa Jebolnya Sandal Gunung Eiger. Sandal gunung yang saya beli empat tahun silam ternyata sudah waktunya purna tugas. Sandal kanan robek sehingga tidak dapat dipakai. Terpaksa kaki kanan hanya beralaskan kaos kaki saja. Well, saya harus menahan sedikit rasa sakit karena harus menginjak batu-batu kecil.

Salah satu hal menyenangkan ketika naik gunung adalah saat memasak. Sesampainya di tenda saya dan Ari memutuskan untuk memasak beras merah, kornet dan sarden sisa semalam. Mungkin tidak istimewa namun patut bersyukur dapat makan sambil menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Suasana camping ground

Camping ground

Ari lagi masak sarapan

Ari lagi masak sarapan

Sarapan

Sarapan

 

Kembali ke masalah sandal gunung, karena tidak bisa dipakai, saya punya ide untuk membeli sandal jepit milik pendaki lain. Sayangnya, setelah beberapa kali bertanya, tidak ada yang membawa sandal cadangan. Ari punya ide untuk memperbaiki sandal itu dengan tali tenda dan pisau lipat. Dan… Voila! Sandal itu bisa dipakai lagi, minimal untuk turun gunung.

Pukul 11.20 kami mulai turun. Perlu ekstra hati-hati karena jalur yang lumayan licin. Sekitar 1 jam 20 menit kemudian saya sampai di pos pendakian. Beberapa saat kemudian Ari sampai. Kami makan siang di suatu warung, lalu mandi dan sholat di masjid terdekat.

Dari masjid perlu berjalan sebentar ke tempat mangkal mobil Colt yang membawa kami ke Terminal Pandaan. Di sekitar terminal, kami menaiki minibus menuju Surabaya. Alhamdulillah, sebelum waktu Maghrib, kami telah sampai di Surabaya.

One thought on “Perjalanan Menuju Puncak Pawitra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s