Presidensial dalam Multipartai

demotivation-posters-auto-politics-smile-321321

 

Dalam sistem presidensial, hubungan presiden sebagai kepala pemerintahan dengan parlemen sangat erat. Selain tugas legislasi dan anggaran, parlemen bertugas mengawasi kebijakan-kebijakan pemerintah (check and balance). Kebijakan-kebijakan presiden harus mendapat persetujuan dari parlemen. Jika parlemen menganggap suatu kebijakan pemerintah tidak berpihak pada rakyat maka parlemen berhak membatalkan dan tidak akan mengeluarkan anggaran. Hal ini akan menyebabkan program-program pemerintah tidak berjalan maksimal.

Pada suatu parlemen dengan multipartai akan banyak kepentingan partai politik (parpol) yang bermain. Dalam memperoleh persetujuan parlemen seringkali lobi-lobi harus dilakukan. Tentunya membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit, apalagi dengan jumlah parpol relatif banyak. Secara tidak langsung hal itu akan memperlambat kinerja pemerintah. Karena itu, dapat dikatakan sistem presidensial tidak cocok dengan sistem multipartai.

Salah satu calon presiden, Jokowi, mengatakan bahwa jika nanti menang, pemerintah yang dia bangun tidak akan bagi-bagi kursi (jabatan). Jokowi menyatakan koalisi yang dia bangun adalah koalisi tanpa syarat. Jokowi tampaknya harus memikirkan kembali keputusannya. Di negara demokrasi yang multipartai di mana dalam suatu pemilihan umum tidak parpol yang memperoleh suara mayoritas maka koalisi adalah suatu keniscayaan. Seandainya Jokowi terpilih menjadi presiden dia tidak bagi-bagi kekuasaan,hal itu adalah suatu keputusan yang hebat dan berani. Lalu kemudian apa keuntungan atau timbal balik bagi parpol pendukung Jokowi? Kita mengenal ungkapan “there’s no free lunch”. Tidak ada hal yang gratis. Apalagi ketika membicarakan politik. Ketika partai-partai pendukung Jokowi berusaha keras memperjuangkan kebijakan-kebijakan Jokowi di parlemen nantinya, apa yang akan mereka peroleh?

Jika Jokowi nantinya benar melakukan apa yang dijanjikannya suatu ketika akan terjadi gesekan antara Jokowi dan PDIP dengan partai-partai pengusungnya. Bisa jadi nantinya banyak kader partai-partai pendukung yang akan ‘menyerang’ Jokowi karena tidak adanya kader partai dalam kabinet untuk mewakili kepentingan dan ideologi partai mereka. Selain itu, siapa yang menjamin semua parpol pendukung manut-manut saja mendukung semua kebijakan presiden selama lima tahun? Hal yang sama juga berlaku bagi calon presiden yang lain, Prabowo Subianto. Hal ini akan menjadi ‘bom waktu’ bagi siapapun presiden yang terpilih. Pada suatu titik presiden terpilih akan ‘tersandera’ sehingga mau tidak mau akan bernegoisasi untuk kembali mendapat dukungan parpol koalisi. Karenanya kebijakan pemerintah nantinya bisa jadi berasal dari kompromi politik.

Oleh karena itu, parlementery threshold (PT) diharapkan naik dari 3,5% pada Pemilu 2014 menjadi 5% pada Pemilu 2019 dan bertahap naik pada pemilu selanjutnya. PT yang tinggi akan menyaring partai-partai sehingga parpol yang lolos adalah parpol yang mendapat dukungan rakyat relatif tinggi. Dengan jumlah parpol makin sedikit politik transaksional dapat dihindari karena parpol peraih suara mayoritas tidak perlu berkoalisi dengan banyak parpol yang telah terbukti tidak efektif pada pemerintahan SBY. Dengan makin sedikitnya parpol maka akan terbentuk pemerintahan yang kuat dan efektif bekerja untuk rakyat.

Untungnya, beberapa bulan yang lalu Mahkamah Konstitusi telah membatalkan syarat presidential treshold. Hal itu membuat setiap peserta pemilu dapat mengajukan sendiri pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. Pada Pemilu 2019 nanti pemilihan parlemen digelar berbarengan dengan pemilihan presiden. Pemilihan parlemen dan pemilihan presiden yang bersamaan berpeluang didapatkan presiden terpilih berasal dari partai peraih suara mayoritas. Para peserta pemilu juga dapat berkoalisi untuk mengajukan satu pasangan capres dan cawapres. Dengan begini kita dapat melihat ‘wajah asli’ partai politik. Partai politik tidak dapat lagi berlindung di balik ‘kesamaan visi’ ataupun ‘kesamaan platform’.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s