Pahlawan atau Penjahat

Foto Usman dan Harun, diambil dari koran The New Paper (Singapura).

Foto Usman dan Harun, diambil dari koran The New Paper (Singapura).

Beberapa saat yang lalu, media heboh dengan pemberitaan protes pemerintah Singapura kepada pemerintah Indonesia atas penamaan kapal perang jenis multy role light fregat yang dibeli dari Inggris. TNI Angkatan Laut berencana menamakan KRI tersebut dengan nama Usman Harun. Usman dan Harun adalah mantan prajurit KKO (Komando Korps Operasi, sekarang Marinir) yang telah diangkat menjadi pahlawan nasional. Namun bagi pemerintah Singapura Usman dan Harun adalah memori kelam peristiwa 49 tahun silam.

Suatu malam di bulan Maret 1965, Usman dan Harun beserta Gani bin Aroep (juga prajurit KKO) menyusup ke daratan Singapura. Aksi itu merupakan tindak lanjut dari konfrontasi Indonesia dengan Malaysia. Presiden Soekarno menentang keras pembentukan Federasi Malaysia (Singapura, Serawak dan Sabah). Usman dan Harun pun dikirim untuk melakukan sabotase pada tempat-tempat vital di Singapura. Akhirnya mereka memilih untuk meledakkan MacDonald House. Sayang Usman dan Harun gagal saat melarikan diri. Keduanya diadili di pengadilan Singapura dan mendapatkan vonis hukuman mati. Peledakan MacDonald House sendiri menewaskan tiga orang dan mencederai 33 lainnya.

Hari Kamis, 17 Oktober 1968, Usman dan Harun menjalani hukuman gantung. Jenazahnya kemudian dibawa ke Indonesia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Presiden Soeharto menganugerahi keduanya dengan gelar Pahlawan Nasional. Namun, apakah tindakan Usman dan Harun tersebut patut dibenarkan?

Tahun 1949, negara-negara di dunia menghasilkan Konvensi Jenewa yang merupakan penyempurnaan bagi ketiga Konvensi Jenewa yang telah ada. Konvensi Jenewa mengatur perlakuan terhadap korban perang dan warga sipil saat perang atau konflik sedang berlangsung. Menurut Konvensi Jenewa, tentara yang sedang berperang tidak boleh membunuh dan menyiksa warga sipil (termasuk jurnalis), kombatan yang terluka dan tawanan perang. Aturan ini dimaksudkan untuk menghargai dan menghormati hak-hak manusia lain yang tak berperang yang berada di wilayah konflik. Konvensi Jenewa berlaku bagi negara-negara yang telah meratifikasi aturan ini.

Indonesia telah meratifikasi Konvensi Jenewa melalui UU No. 59 tahun 1958. Artinya Indonesia wajib menaati semua poin-poin atau pasal-pasal dalam Konvensi Jenewa. Dalam kasus Usman & Harun ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi. Pertama, MacDonald House bukanlah sasaran militer. MacDonald House adalah perkantoran dan hotel di mana banyak warga sipil, baik warga lokal maupun asing, beraktivitas di sana. Kedua, peledakan dilakukan pada pukul tiga sore, pada saat aktivitas dalam gedung cukup ramai. Ketiga, peledakan ini menyebabkan jatuhnya korban jiwa dari kalangan sipil. Keempat, peledakan ini dilakukan secara terencana, artinya bukan kejadian secara spontan, terpaksa atau pembelaan diri.

Saya ingin sedikit bercerita kisah dari film Lone Survivor, film yang dibuat berdasarkan kisah nyata pasukan Amerika Serikat di Afghanistan. Suatu ketika, 4 pasukan Angkatan Laut AS mendapat misi untuk membunuh seorang pemimpin Taliban yang sering bertindak kejam  pada penduduk setempat. Dalam perjalanan mereka tak sengaja bertemu dengan tiga penduduk setempat. Mereka mempunyai beberapa pilihan terhadap tiga orang itu. Dibunuh atau dilepas dengan resiko di antara ketiganya melapor ke Taliban mengenai keberadaan mereka. Mereka menghadapi dilema moral yang cukup pelik.

Akhirnya mereka memilih melepaskan ketiga orang tersebut. Sebenarnya bisa saja pasukan AS membunuh tiga penduduk itu sebagai jalan aman, mereka berada di wilayah konflik. Namun mereka tidak melakukannya. Setelah dilepas, salah satu penduduk melapor ke Taliban. Singkat cerita, terjadi baku tembak antara puluhan pasukan Taliban dan 4 pasukan AS. Pertempuran tak imbang itu menewaskan 3 pasukan AS. Tentara terakhir berhasil selamat. Tentara itu diselamatkan dua orang yang mereka lepas sebelumnya walaupun mereka harus berhadapan dengan Taliban.

Seringkali suatu konflik berada di wilayah abu-abu. Mencari kebenarannya tidak semudah membedakan hitam dan putih. Satu pihak akan terus membela kebenaran yang dipegangnya, yaitu kebenaran relatifnya. Namun di atas kebenaran-kebenaran relatif itu ada nilai-nilai universal yang akan terus berdiri, salah satunya nilai-nilai kemanusiaan. Cara pandang dan informasi yang kita terima yang menentukan apakah Usman & Harun pahlawan ataukah penjahat.

Sumber: Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3, UU No.59 Tahun 1958

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s