Bertandang Sejenak ke Malang

HARI Minggu akhir bulan yang lalu, saya dan beberapa teman berkunjung ke Malang. Motif kunjungan kami adalah menghindar sejenak dari hiruk pikuk perkotaan sekaligus menyambut datangnya bulan Ramadhan.

Awalnya, Madura dan Malang menjadi dua kandidat tujuan kami. Malang terpilih karena menawarkan kuliner lebih menjanjikan, selain ingin mengeliminir ‘nyasar time’ bila mengunjungi Pulau Garam.

Sebelum berangkat, kawan saya, Aynur, telah membuat itinerary singkat. Rencananya perjalanan ini menggunakan motor dan diikuti oleh lima orang. Saya, Iman, Aynur, Muchlis dan Mas Wira. Muchlis dan Mas Wira ialah teman kuliah Iman yang saya kenal beberapa tahun terakhir. Sementara saya, Iman dan Aynur dipertemukan di SMA yang sama

Hari Minggu pun tiba. Datang ke rumah Iman saya terkejut hanya mendapati Iman dan Aynur saja. Ternyata Mas Wira batal berangkat. Sementara Muchlis tidak dapat dihubungi. Rencana mulai sedikit kacau. “Wis nang kebun binatang ae lak wong telu tok,” Aynur meradang.

Di sisi lain, Iman tampak sangat antusias dengan kabar datangnya Jusuf Kalla (JK) ke Malang. Untuk menyelamatkan perjalanan, kami bertiga pergi ke rumah Muchlis. Untung Muchlis hanya telat bangun dan siap ikut ke Malang.

Malang
Perjalanan dimulai. Tak sampai 10 menit, masalah datang. Sepeda motor saya yang dipakai Muchlis bermasalah. Akhirnya sepeda motor diganti dan perjalanan dapat berlanjut. Rencananya kami akan melalui jalur Porong kemudian Pasuruan.

Pagi itu jalanan sangat padat. Kemacetan terjadi di Pandaan. Ternyata penyebabnya truk gandeng mogok di tengah jalan. Aynur sendiri cukup lihai membawa motor bergerak zig-zag di bahu jalan. Dua jam berselang, kami berhenti sejenak di Kebun Raya Purwodadi. Sekedar meluruskan kaki sambil makan pentol.

Bersamaan dengan datangnya waktu dzuhur, kami memasuki wilayah Ngalam. Berdasarkan itinerary awal kami telah telat dua jam. Karena itu, kami buang jauh-jauh rencana semula. Selain karena adanya agenda baru (baca: sempalan) dari Iman: bertemu JK, atau lebih tepatnya menikmati sajian makanan gratis. Sangat opurtunis. Khas Iman.

Acara yang diselenggarakan oleh ‘JK Fans Club’ ini bertempat di Bakso President, bakso yang cukup tersohor di kota Apel. Namun jangan membayangkan tempatnya yang luas dan strategis. Bakso President menempati lahan yang dapat dikatakan tidak luas. Lokasinya bisa pun tidak strategis: berada di samping rel kereta api. Itulah tempat pertama yang kami datangi.

Awakdewe ga perlu diskusine, cuma perlu mangane,” ucap Iman tak tahu malu. Teman saya yang bernama Iman ini memang cukup absurd. Walau berjenggot lebat dan panjang, jangan harap keluar tutur kata halus darinya.

Tiba-tiba datang waitres, menyuguhkan bakso bakar ke meja kami. “Wis panganen ae, mugo-mugo dikei bakso maneh,” sahut Iman. Ketika sedang menyantap bakso bakar, tiba-tiba terdengar suara yang cukup keras. Drrrtt drrttt ddrrrrttt. Kereta api sedang melintas!

Bakso Bakar

Saya sendiri bertanya-tanya apa sebenarnya tujuan kunjungan JK ini. Mungkin saya perlu bertanya ke teman saya Aynur, seorang mahasiswa senior Fisip. Apakah ada hidden agenda dalam kunjungan ketua PMI Pusat ini? Pesta demokrasi 2014 mungkin? Hmm…

Bicara soal Aynur, kawan saya yang satu ini hendak mengikuti jejak sang bapak, terjun ke dunia politik! Dia mengaku berniat mendaftar sebagai calon legislatif pada Pemilu 2019 nanti. Sebagai seorang teman, saya dukung ikhtiar politiknya.

JK baru datang pukul setengah tiga. Kami memutuskan untuk cabut. Sebelumnya kami berjumpa Fikar, teman SMA kami, yang mengabarkan adanya kunjungan JK ini. Tujuan selanjutnya adalah ke UB (Universitas Brawijaya) lalu ke Batu.

Di UB kami hanya singgah sebentar, mengikuti keperluan Aynur untuk memesan penginapan. Lama perjalanan dari UB ke Batu sekitar setengah jam. Melewati jalanan yang sebagian besar menanjak.

Rupanya hari itu kami tak berjodoh dengan kota Batu. Begitu akan masuk ke pusat kota, kendaraan tak bisa bergerak. Ternyata siang itu diselenggarakan festival bantengan. Karena jalanan macet parah, kami urungkan niat mengunjungi alun-alun dan memutuskan untuk balik kucing.

Saya dan teman-teman mampir ke sebuah tempat yang menjual susu murni, masing-masing membeli satu dua botol susu ataupun yoghurt. Sambil minum susu, kami bergurau tentang banyak hal.

Pukul tiga, kami sampai di Malang kota dan berhenti di sebuah masjid untuk sholat dan leyeh-leyeh. Selesai sholat ada kabar acara JK sudah hampir selesai. Okay, diputuskan untuk menuju Stasiun Kotabaru Malang. Makan bakso.

Saya memang bukan penggemar bakso tapi saya yakin bakso Stasiun P. Dulmanan ini salah satu yang terbaik di Malang. Dan memang bakso ini telah ada sejak tahun 1960-an. Harganya tidak mahal, satu mangkok cuma 10 ribu. Setelah perut terisi, kami langsung bablas balik ke Surabaya.

Sore itu jalanan padat namun lancar. Masuk waktu maghrib, Aynur menghentikan motor di Masjid Cheng Hoo Pasuruan. Dibandingkan Masjid Cheng Hoo di Surabaya, masjid di Pasuruan ini lebih besar dan mempunyai 2 lantai. Di dalam kompleks masjid juga terdapat sentra oleh-oleh jajanan.

Rute Pasuruan-Surabaya gantian saya yang mengendalikan motor. Untung jalanan tak terlampau ramai. Sekitar pukul delapan malam, kami sampai di Surabaya. Membawa pulang rasa lelah dan juga kenangan.

Photo0074

Note: Dua foto pertama diambil oleh Aynur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s