Catatan Pendakian Gunung Gede

Gunung Gede-Pangrango merupakan gunung yang populer di kalangan para pendaki gunung maupun pecinta alam. Selain karena letaknya yang tidak terlalu jauh dari Jakarta, gunung Gede-Pangrango dapat didaki dengan waktu cukup singkat, sekitar dua hari satu malam. Berbagai cerita tentang pendakian gunung Gede-Pangrango membuat kedua gunung ini masuk dalam deretan gunung yang ingin saya daki.

Kesempatan untuk mendaki salah satu gunung tersebut akhirnya datang. Berawal dari ajakan di salah satu forum pecinta alam, keinginan mendaki gunung Gede pun terlaksana. Sama seperti pendakian gunung Semeru, saya belum pernah bertemu sebelumnya dengan teman pendakian kali ini. Bertemu teman-teman baru dengan latar belakang yang berbeda-beda selalu menyenangkan. Berbeda latar belakang namun mempunyai tujuan yang sama yaitu menikmati alam seraya mengagumi kebesaran-Nya. Di alam bebas, latar belakang seorang manusia pudar dengan sendirinya.

Berbagai Jalur Menuju Gunung Gede-Pangrango

Malam itu saya telah berada di Jakarta, di Pancoran tepatnya, tempat kami akan berkumpul sekaligus sebagai starting point. Yang mengikuti pendakian kali ini berjumlah 15 orang, terdiri dari 8 pria dan 7 wanita. Setelah orang ke-15 datang, bus ¾ mulai meninggalkan Jakarta menuju Cibodas dan saya pun mulai memejamkan mata.

Ternyata tidur saya kurang begitu nyenyak karena 1,5 jam kemudian bus telah sampai di Cibodas. Kami beristirahat di salah satu warung makanan yang ada di sana. Warung ini mempunyai beberapa ruangan yang cukup luas sebagai tempat istirahat para pendaki. Saya sendiri sempat tidur 2 jam.

Pagi tiba, setelah bersiap dan sarapan, kami memulai pendakian pukul 6.30. Kami naik melalui jalur Cibodas dan akan turun melalui jalur Gunung Putri. Jalur pendakian awal cukup ringan dengan adanya tangga berbatu. Jalur pendakian Cibodas mempunyai beberapa tempat menarik seperti Telaga Biru dan Air Terjun Cibeureum. Jika ingin ke Cibeureum, di pertigaan Panyancangan Kuda pilih jalur kanan lalu berjalan selama 10 menit. Kami sendiri berfoto-foto di sana.

Air Terjun Cibeureum

Air Terjun Cibeureum 2

Hutan pegunungan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango masih cukup asri dan rapat. Hal ini membuat pendakian kali ini tidak terlalu melelahkan karena kita akan terhindar dari teriknya sinar matahari. Karena perbedaan kondisi fisik, rombongan tim kami terpencar menjadi beberapa bagian. Kebetulan saya berada di depan. Salah satu hal unik dari pendakian gunung Gede maupun Pangrango adalah adanya penjual nasi uduk di jalur pendakian. Saya menjumpainya saat melepas lelah di shelter Air Panas. Di sana, saya menjumpai suatu sumber air panas. Ketika saya pegang, airnya memang sangat panas. Sekitar 70-80 derajat Celcius. Sambil menunggu teman-teman yang berada di belakang, saya makan siang terlebih dahulu.

Shelter Kandang Batu

Pendakian berlanjut kembali. Tak begitu lama, kami sampai di shelter Kandang Batu. Hati-hati di sini ada dua jalur, pilih jalur kanan bila tidak ingin tersesat. Dari sini, jalur mulai agak terjal. Berjalan selama satu jam setengah, akhirnya saya sampai di shelter Kandang Badak. Di sana sudah banyak tenda berdiri milik pendaki yang ingin ke puncak Gede ataupun Pangrango. Kujumpai juga dua porter kami. Untungnya mereka telah mendirikan 4 tenda untuk kami tempati.

Shelter Kandang Badak

Tenda memenuhi shelter Kandang Badak

Malamnya turun hujan yang cukup deras. Hal yang tak dinginkan pun terjadi. Tenda yang saya tempati bersama Ibnu dan Dimas kemasukan air hujan. Begitu juga satu tenda yang lain yang ditempati kaum hawa. Tenda memang harus dipasang fly sheet, selain untuk menahan angin juga untuk mencegah air hujan masuk ke dalam tenda. Untungnya Unta sigap dan segera membereskan situasi yang agak chaos saat itu.

Awalnya kami berencana akan summit attack pukul setengah empat pagi. Namun apa daya, karena rasa malas ditambah cuaca yang masih gerimis, kami menunda summit attack beberapa jam kemudian. Setelah packing dan sarapan roti, kami pun memulai pendakian menuju puncak Gede.

Tak lama berjalan, akan berjumpa dengan suatu persimpangan. Jika ingin ke puncak Pangrango (3.019 mdpl) silakan ambil jalur ke kanan. Bila ingin ke puncak Gede (2.958 mdpl), ambil jalur kiri atau tengah. Kira-kira setelah setengah jam berjalan, kami berjumpa dengan Tanjakan Setan. Sesuai namanya, melihat tanjakan ini mungkin membuat nyali ciut untuk mendakinya. Lebih tepat jika saya menggunakan istilah ‘memanjat tebit’. Walaupun sempat stack di tengah tanjakan, saya berhasil melewati tanjakan ini dengan susah payah. Ngeri tapi fun.

Tanjakan Setan

Tanjakan Setan 2

Berjalan kembali. Kali ini jalur yang dilewati benar-benar menanjak. Berselang satu jam dari Tanjakan Setan, saya pun sampai di puncak Gede. Alhamdulillah… Puncak Gede berada di pinggiran kawah, tak cukup jelas bagi pendaki yang baru pertama kali mendaki gunung ini. Apalagi saat itu tidak tulisan puncak satu pun. Sayang, hanya udara putih yang nampak. Kabut rupanya tak mau pergi pagi itu.

Kawah yang Berkabut

Puncak Gede

Cukup lama kami berada di puncak. Setelah cukup puas, kami mulai menuruni jalur yang terjal. 40 menit kemudian, kami sampai di Surya Kencana yang legendaris. Surya Kencana merupakan padang edelweiss yang luas. Bila mendaki dari jalur gunung Putri, para pendaki umumnya ngecamp di Surken.

Surya Kencana

Bunga Edelweiss

Bunga Edelweiss 2

Kabut Menghampiri

Surken merupakan tempat yang sempurna bila ingin berfoto dengan latar belakang bunga edelweiss. Seperti yang kami lakukan. Acara di Surken itu ditutup dengan makan siang. Tepat ketika akan melanjutkan perjalanan, hujan turun dengan sederas-derasnya. Melewati Surken, kami masuk ke hutan dengan jalur yang sangat terjal. Turun saja begitu menyulitkan. Saya tidak mau membayangkan bila harus naik melewati jalur ini.

Skip. Skip. Akhirnya saya sampai di pintu masuk dari jalur gunung Putri. Rombongan sudah terpecah-pecah, kebetulan saya di belakang. Dari puncak Gede turun ke gunung Putri normalnya menempuh waktu selama 4 jam. Setelah bertemu teman-teman yang lain, saya segera mandi dan sholat di masjid sekitar. Untung di sana ada yang jual bakso. Bakso memang teman makan yang nikmat di kala hawa dingin datang.

Perjalanan pulang tetap menggunakan bus. Sampai di Jakarta pukul setengah sembilan malam. Malam itu saya menginap di rumah kontrakan Mas Dani dan Mas Atang di Depok sebelum keesokan paginya kembali ke Bandung.

Thanks to: Mas AM, Mas Dani, Mas Atang, Unta, Dimas, Ibnu, Ucok, Hani, Nindi, Ijul, Wiwik, Reni, Nita dan Ambar. Terlebih ke Mas Dani dan Mas Atang atas tumpangan di kontrakannya.

11 thoughts on “Catatan Pendakian Gunung Gede

  1. terima kasih atas infonya. saya rencananya juga punya keinginan mendaki gunung gede. saya mau tanya berapa biaya porternya? apakah biaya tersebut sudah termasuk pemasangan tenda, makan? pada intinya saya maunya beres?

    ditunggu responnya.

    thanks & regards,

    Leo

    Like

    • Maaf mas Leo baru bales sekarang. Saya ga tau biaya porter tepatnya berapa,pastinya diatas 100 rb per hari.Kalo kemarin karena bawa dua porter,mereka bawa tenda kecil sendiri.Makan,dari bahan yg kita bawa,kalo tidak salah.Job desc mereka itu bawain barang,masang tenda,bisa masak juga biasanya.

      Trima kasih udah berkunjung.Semoga trip-nya lancar.

      Like

  2. Pingback: Bogor uncal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s