Sjahrir

Bulan November selalu identik dengan hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November. Sebelumnya pada udah tau kan sapa aja pahlawan nasional Indonesia? Untuk mengenang dan meneladani jasa-jasa para pahlawan, tidak ada salahnya kita mengingat kembali kisah perjuangan para pahlawan yang mengorbankan jiwa dan raga untuk kemerdekaan Indonesia. Nah, Sutan Sjahrir adalah salah satunya. Bagi yang pernah mempelajari sejarah Indonesia pasti pernah mengetahui sepak terjang dari tokoh  kelahiran Sumatera Barat ini. Memang Sjahrir tidak sepopuler Bung Karno dan Bung Hatta, tetapi jasa Sjahrir tidak kalah besar dengan duo Pahlawan Proklamator kita tersebut. Bersama Soekarno dan Mohammad Hatta, mereka dikenal sebagai “Tiga Serangkai” pada zaman pergerakan nasional.

Sutan Sjahrir lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat pada 5 Maret 1909. Sjahrir menjalani pendidikannya di sekolah dasar (ELS) dan sekolah menengah (MULO) di Medan. Pada 1926, ia selesai dari MULO dan masuk sekolah lanjutan atas (AMS) di Bandung. Di sekolah menengah (AMS) Bandung, Sjahrir dikenal sebagai siswa yang sering menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas sosial, yang kemudian menjurus menjadi politis.

Sjahrir termasuk dari sepuluh orang penggagas berdirinya Jong Indonesie yangkemudian berubah nama menjadi Pemuda Indonesia. Sjahrir muda lalu melanjutkan pendidikan ke Fakultas Hukum, Universitas Amsterdam, Leiden. Di sana, Sjahrir mendalami sosialisme secara sungguh-sungguh. Selain berkutat pada sosialisme, Sjahrir juga aktif dalam Perhimpunan Indonesia (PI) yang ketika itu dipimpin oleh Hatta.

Kembali ke Indonesia tanpa menyelesaikan kuliahnya, Sjahrir terjun dalam pergerakan buruh dan pada Mei 1933, didaulat menjadi Ketua Kongres Kaum Buruh Indonesia. Bersama Bung Hatta, Sjahrir memimpin PNI Baru sebagai sebagai organisasi pencetak kader-kader pergerakan. Karena takut akan potensi revolusioner PNI Baru, pada Februari 1934, pemerintah kolonial Belanda menangkap dan mengasingkan Sjahrir, Hatta, dan beberapa pemimpin PNI Baru ke Boven Digul, Papua. Hampir setahun, Hatta dan Sjahrir kemudian dipindahkan ke Banda Neira untuk menjalani masa pembuangan selama enam tahun.

Pada masa pendudukan Jepang, Sjahrir membangun jaringan gerakan bawah tanah karena yakin Jepang tak mungkin memenangkan perang, sehingga kaum pergerakan mesti menyiapkan diri untuk merebut kemerdekaan di saat yang tepat. Perjuangan mereka membuahkan hasil dengan diproklamasikannya Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta.

Pada November 1945, Syahrir didukung kalangan pemuda dan ditunjuk Soekarno menjadi formatur kabinet parlementer. Pada usia 36 tahun, dimulailah peran Sjahrir dalam perjuangan kedaulatan Indonesia, sebagai Perdana Menteri termuda di dunia, merangkap Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri. Kabinet Sjahrir I, Kabinet Sjahrir II sampai dengan Kabinet Sjahrir III (1945 hingga 1947) konsisten memperjuangkan kedaulatan RI lewat jalur diplomasi.

Diplomasi Sjahrir berbuah kemenangan sementara. Inggris sebagai komando tentara sekutu untuk wilayah Asia Tenggara mendesak Belanda untuk berunding dengan pemerintah republik. Secara politik, hal ini berarti secara de facto sekutu mengakui eksistensi pemerintah RI. Jalan berliku diplomasi diperkeruh dengan gempuran aksi militer Belanda pada 21 Juli 1947. Aksi Belanda tersebut justru mengantarkan Indonesia ke forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Setelah tidak lagi menjabat Perdana Menteri (Kabinet Sjahrir III), Sjahrir diutus menjadi perwakilan Indonesia di PBB. Di panggung internasional, secara piawai Sjahrir mematahkan argument diplomat ulung Belanda sehingga mampu membuat PBB ikut campur dalam perjuangan kedaulatan Indonesia.

Sejak akhir Januari 1950 Sjahrir tidak memangku jabatan negara. Sjahrir menikah dengan Siti Wahyunah pada tahun 1951 dan dikaruniai dua orang anak. Pada 1955, Partai Sosialis Indonesia yang dipimpin Sjahrir gagal mengumpulkan suara dalam pemilihan umum pertama di Indonesia. Setelah kasus PRRI dan PSI tahun 1958, hubungan Sjahrir dengan Presiden Soekarno semakin memburuk sampai akhirnya PSI dibubarkan tahun 1960. Bahkan, tahun 1962, Syahrir ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili, hingga pada 1965 Sjahrir menderita penyakit “stroke”. Setelah itu, Sjahrir diijinkan untuk berobat ke Zurich, Swiss, hingga meninggal dunia di sana pada tanggal 9 April 1966 pada usia 57 tahun.

Sutan Sjahrir wafat dalam pengasingan sebagai tawanan politik dan kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

2 thoughts on “Sjahrir

  1. Jayne says:

    halo

    salam kenal dari pelajar indonesia darah campuran yang sudah terlalu lama di inggris! >.<

    aku tersandung blog entry kamu sewaktu menresearch nama sjahrir! dia memang pahlawan sejati. favoritku adalah sjahrir dan hatta

    makasih telah nulis blogpost yang informatif =)

    aku suka banget nama blog kamu.

    pernah dengar/baca tentang puisi chairil anwar yang berjudul "Krawang Bekasi"? disitu tercantum nama sjahrir. tanpa puisi itu, kemungkinan besar aku tidak akan langsung tau tentang dia

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s