Review Film 5cm

Standard

5 cm @station

Memfilmkan sebuah novel atau buku yang mempunyai basis pembaca yang luas adalah sebuah kecenderungan para produser film saat ini. Setidaknya film yang dibuat akan mempunyai basis penonton tersendiri. Itupun yang terjadi dengan novel 5cm. 5 cm adalah karya Dhonny Dirgantoro yang telah dicetak ulang berkali-kali. Itu seharusnya yang menjadi modal bagi Rizal Mantovani untuk menggarap kisah persahabatan ini dengan maksimal.

Dan siapa sangka raihan yang dicapai 5cm cukup fenomenal. Meraih 500 ribu penonton dalam waktu 5 hari. Sampai tulisan ini dibuat, film ini telah ditonton lebih dari 2 juta penonton. Sebuah prestasi yang sangat membanggakan tentunya.

Mengenai novelnya, saya sendiri tidak terlalu menyukainya. Ketika film 5cm akan dirilis saya berharap adaptasi layar lebarnya tidak akan selebay atau berlebihan seperti novelnya. Namun setelah saya menonton 5cm, saya, dan mungkin banyak pecinta alam, agak kecewa dengan hasil akhir fim ini. Selain kualitas filmnya sendiri, ada beberapa teknis pendakian yang kurang tepat dalam penceritaan film. Beberapa perlu diluruskan karena tinggal di alam liar dan terbuka seperti gunung membutuhkan persiapan fisik dan mental yang memadai. 

Beberapa adegan yang cukup mengganggu:

- Adegan Ian mengejar kereta. Ian tampak tidak cukup pintar untuk naik dari gerbong yang lebih dekat dengannya alih-alih lari mengejar gerbong yang jauh.

- Adegan ketika semua karakter berada di jeep sangat annoying. Saat masing-masing berucap “mulut yang senantiasa berdoa” dan sebagainya.

- Adegan puncak sangat mengganggu. Ketika mereka berenam berdiri di depan bendera Merah Putih sambil mencoba berorasi tentang arti nasionalisme dan tampak di belakang mereka puluhan pendaki berdiri diam. It’s totally failed Mr. Director.

Teknis pendakian yang kurang tepat:

- Ransel yang dibawa tampak kosong dan ringan.

- Sebagian besar dari mereka tidak diberitahu akan melakukan pendakian ke gunung Semeru. Mereka baru diberitahu ketika sampai di Malang. Memangnya naik gunung itu seperti rekreasi?

- Ketika mereka berenam melihat Bukit Teletubbies dalam perjalanan menuju Ranu Pane dengan jeep, terlihat jeep menghadap ke kiri (arah turun) seharusnya jeep menghadap ke kanan (arah naik). Lalu jalur Tumpang – Ranu Pane tidak turun sampai ke lautan pasir di Bukit Teletubbies kecuali mereka menuju Bromo terlebih dahulu.

- Rambut dua pemeran wanita tidak pernah (diperlihatkan) dikuncir selama pendakian. Demi penampilan mengorbankan realitas?

- Hampir semua karakter menggunakan celana jeans ketika melakukan pendakian padahal jeans sangat tidak disarankan dipakai karena jika jeans basah maka susah kering dan berat.

- Ketika mampir Ranu Kumbolo tidak diperlihatkan mereka mengambil air danau untuk bekal. Memang bukan berarti tidak mengambil air tapi di adegan selanjutnya mereka meminta air kepada pendaki lain sesampainya di Kalimati.

- Mereka melakukan perjalanan dari Ranu Pane menuju Arcopodo dalam waktu sehari semalam, padahal sebagian besar dari mereka adalah pendaki pemula. Fisik yang sangat tangguh.

- Ketika sedang mendaki lereng pasir Mahameru, karakter Arial, Dinda dan Ian terluka cukup parah. Jika mereka lebih menyayangi nyawa mereka daripada keinginan menuju puncak seharusnya mereka tidak meneruskan pendakian.

- Ketika mampir di Ranu Kumbolo saat turun hampir semua karakter berenang di danau. Mungkin mereka lupa bahwa air danau digunakan untuk minum dan masak. Adegan ini akan menjustifikasi para pendaki untuk berenang di danau yang sebenarnya berbahaya dan dilarang.

Bukan berarti film ini tanpa kelebihan yang dapat dibanggakan. 5cm hadir dengan penyajian yang menghibur, ringan, begitu dekat dengan penonton serta menampilkan landscape Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dengan cukup indah. Terlepas dari banyak kekurangannya, 5cm adalah tontonan yang menghibur bagi semua kalangan.

 

About these ads

One response »

  1. Pingback: Film Indonesia 2012 Terbaik | Learning by Sharing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s